-->

Sejarah Penyebaran Islam di Pulau Binongko

Menurut tradisi Culadha Tape-Tape (tradisi lisan) bahwa masuknya pengaruh Islam di Pulau Binongko diperkirakan pada abad ke-15 (1530-1538) dan dibawah oleh Syekh Abdul Wahid yang merupakan pendatang dari Arab-Gujarat. Sebelumnya, ia sempat singgah di Pulau Batu Atas tepatnya di Katoba Mambulu yang merupakan daerah ketinggian di pulau itu. Lalu kemudian di tempat itu pula dijadikan sebagai tempat sholat dan pusat penyebaran Islam di Pulau Batu Atas. Selanjutnya Syekh Abdul Wahid melanjutkan perjalanannya ke Pulau Binongko dengan  tujuan untuk mengislamkan masyarakat di pulau tersebut. Karena pada saat itu masyarakat Binongko masih memegang kepercayaan lama, yakni dinamisme dan animisme.
Pada abad yang sama, Syekh Abdul Wahid sampai di Pulau Binongko dan mendarat di Pantai Bharangka dan menetap di Te’e Suapa. Untuk mempermudah dalam penyebaran agama Islam, ia menikah dengan seorang wanita dari Kaluku yang bernama Wa Rarangkapera. Setelah memeluk Islam, Wa Rarangkapera langsung berganti nama menjadi Papa Aulia dan ia merupakan orang Binongko pertama yang memeluk Islam. Untuk mengenang jasanya, kemudian namanya diabadikan dalam penyebutan  sebuah kampung Papalia yang diambil dari kata Papa Aulia.
Dalam penyiaran agama Islam di Pulau Binongko, Syekh Abdul Wahid bersama Istrinya Wa Rarangkapera (Papa Aulia) menetap di Koncu Patua Wali dan ditempat itu pula dijadikan sebagai pusat penyebaran Islam di Binongko. Karena pada saat itu Koncu Patua Wali merupakan pusat pemerintahan Lakina. Selama 8 tahun Syekh Abdul Wahid menyiarkan Agama Islam di Pulau Binongko dengan gigih dan ia sempat membuat masjid pertama serta Baruga Sarano Wali pertama di Pulau Binongko. Setelah seluruh masyarakat Binongko masuk Islam, lalu Syekh Abdul Wahid pergi ke negeri Buton tepatnya di Burangasi dan ia meninggalkan tradisi lokal yang telah berakulturasi dengan budya Islam yakni Cucurangi (ritual) yang dinamakan Karia’a Wali Ajamani. Sampai kini Cucurangi (ritual) Karia’a Wali Ajamani secara rutin selalu diperingati setiap 8 Tahun sekali sebagai tanda kemenangan agama Islam di Pulau Binongko.
Kemudiam dari hasil pernikahan antara Syekh Abdul Wahid dengan Papa Aulia, dikaruniai dua orang anak, yakni Sitti Nur Aulia dan Abdul Mulku. Selanjutnya Sitti Nur Aulia menikah dengan Saidi Awaluddin dan Abdul Mulku menikah dengan Wa Ode Manjila. Dan dari hasil pernikahan mereka melahirkan anak dan cucu terbaik yang kemudian menjadi ulama Binongko, diantaranya: K.H Abdul Latif, K.H Asy’ari, K.H Ibrahim, K.H Misba, K.H Abdul Syukur, K.H Abdul Gani, dan K.H Daud.
Beberapa ahli agama tampil dari Binongko pada tahun 1940 adalah K.H Abdul Latif mengembangkan Islam di Muna, K.H Asy’ari mengembangkan Islam di Ambon (juga Papua) dan menjadi imam Masjid Raya Al-Fatah Ambon hingga akhir hayatnya, K.H Ibrahim bersama kerabatnya yaitu K.H Abdul Syukur dan K.H Daud menyiarkan Islam di Bau-Bau, Kabaena, Gu, Mawasangka, dan Lolibu. K.H Ibrahim menjadi imam Masjid Raya Bau-Bau hingga akhir hayatnya (Ali Hadara, 2015: 141).

    Dari uraian diatas dapat ditarik sebuah kesimpulan dan asumsi, bahwa sejak zaman Kesultanan Buton orang Binongko telah mengambil peranan penting dalam penyebaran Islam  di jazirah Sulawesi Tenggara.