-->

Asal Usul Tari Pajoge Ngiwi

Menurut Culadha Tape-Tape (tradisi lisan) masyarakat Cia-Cia  di Pulau Binongko, bahwa setelah Muhammad Jafar Alisyahadiq bersama Waliullah (putri bidadari) sampai di Pulau Binongko dalam perjalananya mengelilingi Kepulaun Bitokawa (Wakatobi sekarang), ia langsung berkata kepada Raja Wali La Patua Suhamil Tahim Alam dengan kalimat, “nomo’apa bhara samiana picu holeo picu rondo ciamo tarumato i ratoa i mata cimburu mai uka aramba sabhangka’u Waliullah ana hawitemo buri-buriano i so’o”, artinya “kenapa sehingga kami selama tujuh hari tujuh malam tidak sampai pada tujuan menuju timur dan satu lagi sahabatku Waliullah ini selalu menyebut namamu”. Kemudian Raja Wali menjawab “liwu noparahu’umo no’umbu, hawitemo miano ciamo nami amea”, artinya “pulaunya sudah mulai muncul, hanya saja manusianya belum bersatu”. Kemudian Raja Wali La Patua Sumahil Tahim Alam menikah dengan putri bidadari Waliullah. 
Setelah mereka menikah, Muhammad Jafar Alisyahadiq melanjutkan lagi perjalananya ke arah timur dan Waliullah bersama Raja Wali La Patua Sumahil Tahim Alam tinggal di Koncu Kapala (bukit kapal) Wali. Di ceritakan pula bahwa, pertemuan jodoh (potabuno rohi) antara mereka di Koncu Kapala merupakan awal pertumuannya. Di Koncu Kapala ini, Waliullah bangkit dari tempat duduknya lalu menarikan sebuah manari pajoge (tarian) sambil berpantun (kabhanti/kabanci) dalam bahasa Mbedha-Mbedha/Kaumbedha, yaitu “nondeu pointe nata’u ana awana tau molengo”, artinya “kebahagian tahun ini seperti halnya tahun yang dulu”. Kemudian Raja Wali La Patua Sakti Sumahil Alam bangkit berdiri serta mendekat lalu melakukan manari ngiwi (tarian) sambil berpantun (kabhanti/kabanci) dalam bahasa Cia-Cia, yaitu “kameje’u iso’omo ancu aso sabhangka’u/sakawi’u salengono”, artinya “saya merasa bahagia engkaulah yang akan menjadi  sahabatku/istriku selamanya”. 

Dari peristiwa itu, lahirlah Tari Pajoge Ngiwi dan sampai saat ini masih dilestarikan oleh masyarakat Binongko dan juga sering di tampilkan pada setiap acara Cucurangi (Ritual) Adat Karia’a Wali Ajamani (ritual adat untuk mengenang pengislaman dan kemenangan Islam di Pulau Binongko).