-->

Asal Asul Masyarakat Pulau Binongko

Berdasarkan Culadha Tape-Tape masyarakat Wali dikisahkan bahwa, suatu ketika bahtera (kapal) dari Tiongkok (Mongol/China) yang di nakhodai oleh sang Raja Wali La Patua Sakti Sumahil Tahim Alam melakukan pelayaran lalu karam atau kandas di suatu pulau karang akibat terkena tambu-tambu (arus). Dikisahkan pula bahwa, sebelum kapal tersebut kandas mereka pernah singgah di sebuah pulau besar atau disebut barangka to’oha (kampung besar) dan pulau yang dimaksud adalah Pulau Buton. Di yakini bahwa jangkar kapal yang ada di Keraton Buton adalah jangkar kapal Raja Wali La Patua Sakti Sumahil Tahim Alam yang ditinggalkan.
Setelah kapalnya kandas, lalu La Patua Sakti Sumahil Tahim Alam sebagai nakhoda kapal tersebut, mencoba menurunkan kora-kora/koli-koli (sampan) dan setelah itu ia mendayung meninggalkan kapal yang telah kandas itu. Tiba-tiba ia sangat terpana ketika melihat dihadapannya ada cahaya/nur. Ternyata cahaya itu adalah seorang  bidadari yang baru turun dari khayangan/langit menuju hamparan laut yang bergelombang. Kemudian bidadari itu disebut Waliullah. Akibat melihat hal itu, Sang Raja Wali La Patua Sakti Sumahil Tahim Alam merasa mente-citende (terkagum-kagum) saat memandang prosesi keajaiban atas Maha Besar Allah SWT. Ia lalu mengucapkan kalimat bhi (kagum). Mendengar kalimat itu, kemudian bidadari Waliullah menjawab dengan kata nongko (kelapa). 
Dalam Bahasa Wali kuno di jelaskan bahwa, buauh kelapa yang masih ada kulitnya disebut nongko, dan buah kelapa sudah terpisah dari kulitnya disebut dhongko. Secara etimologi nama Binongko berasal dari dua unsur kata yaitu bhi/bi (kagum) dan nongko/dhongko (buah kelapa). Dari dua unsur kata itu, kemudian diterjemahkan bahwa nama Binongko berarti kekaguman sang Raja Wali La Patua Sakti Sumahil Tahim Alam saat melihat seorang bidadari Waliullah yang turun dari khangan/langit. Dalam tradisi Culadha Tape-Tape berarti rahasia atau haebuno Pulau Binongko tersimpan dalam buah kelapa. Sehingga dari peristiwa itu, lahirlah nama Binongko atau Pulau Binongko. Sampai saat ini setiap bayi yang baru dilahirkan, setalah sando (dukun beranak) memotong tali pusat, setelah itu akano (ari/plasenta) dimasukan dalam buah kelapa yang sudah dibuka isinya dan disebut tambusili lalu dikubur.

Menurut kepercayaan masyarakat Binongko bahwa semua rahasia tentang keberadaan dan kebesaran Allah SWT itu ada dimana-mana sesuai yang dikehendaki-Nya termasuk rahasia Allah SWT menciptakan Pulau Binongko itu sendiri. Rahasia tersebut tidak mampu di kaji berdasarkan ilmu pengetahuan modern dan tidak dapat dibuktikan secara ilmiah (rasional/akal). Sebab akal tidak mampu merasionalkan sesuatu pengetahuan diluar jangkauan akal itu sendiri, misalnya tentang keberadaan Allah SWT.  Maka dari itu, manusia sebagai makhluk ciptaan-Nya harus selalu kururu mai-mai (mensyukuri) nikmat yang telah diberikan Allah SWT.